Memaknai Isra' Mi'raj PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh danny   
Minggu, 20 Juli 2008

Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW menempati sistem sosial yang penting dalam kehidupan umat Islam. Di Indonesia peristiwa Isra dan Mi’raj menjadi agenda resmi negara untuk memperingatinya. Peringatan Isra dan Mi’raj dilaksanakan di mesjid Istiqlal (mesjid kemerdekaan) yang dihadiri oleh presiden, wakil presiden, para pejabat negara,  para duta besar negara sahabat serta umat Islam pada umumnya. Hal ini menujukan akan pentingnnya makna Isra dan Mi’raj bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya umat Islam.

Namun yang terpenting bagi umat islam memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj berarti memaknai arti pentingnya peringatan tersebut bagi umat Islam. Setidaknya memaknai peringatan Isra dan Mi’raj yaitu mengetahui tentang sejarah Isra dan Mi’raj dan meneladani nilai-nilai Isra Mi’raj serta relevansinya bagi pembnagunan masyarakat Indonesia yang sedang mengalami multi krisis.


 

 

Makna Isra dan Mi’raj Dalam Sejarah

Segi kesejarahan Isra dan Mi’raj berkait erat dengan dua tempat  suci yaitu Masjid al-haram di Makkah, dan Masjid al-Aqso di Baiyt al-Maqdis. Masjid Haram (al-Masjid al-Haram), baik dalam arti bangunan itu sendiri ataupun dalam arti keseluruhan kompleks Tanah Suci Makkah (sebagaimana banyak dikemukaan oleh para ahli tafsir al-Quran), adalah tempat bertolak Nabi s.a.w. dalam menjalani Isra dan Mi’raj. Ini dijelaskan tanpa meragukan dalam al-Qur’an, surat al-Isra (juga disebut surat Bani Israil), yaitu surat ke 17 ayat pertama: “Maha suci Dia (Allah) yang telah menjalankan hambanya di suatu malam, dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang kami berkati sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian kebesaran dari tanda-tanda kebesaran kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Menedengar, Maha Melihat.

Mengapa Nabi s.a.w. dalam perjalanan suci itu bertolak dari Masjid Haram, kiranya adalah karena alasan yang amat jelas, yaitu karena beliau adalah orang Makkah dan tinggal di sana. Tetapi mungkin sekali ada kaitannya dengan sejarah Masjid Haram itu sendiri (Nurcholish Madjid, 2000:12), sehingga perjalanan beliau bertolak dari Makkah (menuju Masjid Aqsha, dan terus ke Sidrat Muntaha) itu mempunyai makna lain, yaitu isyarat Makkah sebagai titik tolak semua ajaran para Nabi dan Rasul, yaitu Tauhid (paham Ketuhanan Yang Maha Esa) dan Islam (sikap pasrah yang tulus kepada-Nya). Sebab dalam Kitab Suci al-Quran terdapat Firman yang menegaskan bahwa :”Sesungguhnya rumah  (suci) yang pertama kali didirikan untuk umat manusia adalah yang ada di Bakkah (Makkah) itu, sebagai bangunan yang diberkati dan merupakan petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Ali Imran :96).

Kemudian Masjid Aqsha di Bayt al-Maqdis adalah tujuan perjalanan malam (Isra) Nabi s.a.w., serta titik tolak beliau melakukan Mi’raj, menuju Sidrat al-Muntaha menghadap Tuhan seru sekalian alam. Ini dengan jelas disebutkan dalam al-Qur’an, surat al-Isra, ayat pertama, sebagaimana telah dikutif di atas. Salah satu pengalaman Nabi Muhammad s.a.w. ketika berada di Masji Aqsha itu ialah ketika  beliau menjadi imam sembahyang untuk seluruh Nabi dan utusan Allah, sejak dari Nabi Adam a.s. Ini jelas melambangkan kesamaan dasar dan kontinuitas agama Allah seperti dibawa oleh para Rasul semuanya, dan agama itu berkembang sejak dari bentuk yang dibawa oleh Nabi Adam a.s. menuju bentuknya yang terakhir dan sempurna, yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Karena itulah Nabi Muhammad s.a.w. menjadi imam para Nabi dan Rasul di Masjid Aqsha itu, yang ini jelas sekali melambangkan dan menegaskan bahwa beliau, selaku penutup para Nabi dan Rasul, mewakili puncak perkembangan agama Allah, yaitu al-Islam (ajaran kepatuhan dan pasrah kepada Allah dengan tulus).

 

Hikmah dan Relevansinya

Tujuan utama memperingati Isra Mi’raj adalah untuk memperkokoh keimanan dan keyakinan umat Islam kepada kemahakuasaan Allah, dan kebenaran risalah Rasulullah, serta memetik hikmah besar yang terkandung di dalamnya. Dalam peristiwa Isra dan Mi’raj inilah Nabi Muhammad s.a.w. menerima perintah shalat lima waktu secara langsung sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan dengan Allah. “Dan dirikanlah shalat (karena) sesungguhnya shalat itu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah itu sangat besar manfaatnya (al-Ankabut:45). Nabi Muhammad s.a.w. bersabda “barangsiapa yang mendirikan shalat, sesungguhnya ia telah menegakan agama,barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah meruntuhkan agama”.

Sebagai tiang agama, shalat adalah do’a yang dihadapkan dengan sepenuh jiwa dan hati kehadirat Illahi. Ia adalah wadah pembeningan jiwa dan karena rintihan hati nurani manusia dapat berkumandang ke seluruh penjuru angkasa tanpa batas, memohon kepada Allah agar mendapat kekuatan dan keteguhan untuk membangun diri, keluarga, masyarakat dan negara dan negara dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian inheren dari dimensi pembangunan manusia seutuhnya, shalat merupakan bingkai pemanfaatan iman, peningkatan kualitas karya, penegakan kebenaran (haq), dan pengendalian diri (sabar). Pengendalian diri dapat terjadi apabila terdapat keseimbangan antara emosi, rasa, persepsi, karsa dan perbuatan. Keseimbangan inilah yang dapat diartikan sebagai persepsi dinamis yang terdapat dalam ibadah shalat dalam keseluruhan spektrum kehidupan kita sehari-hari. Namun, dalam ritme kehidupan manusia dewasa ini yang kian meningkat kecepatannya dengan aneka cara yang kian deras arusnya, dapat menyebabkan shalat kita terkesan kurang kontemplatif, kurang khusu, sehingga kita kurang tafakur dihadapan Allah.

Dimulainya shalat berjamaah ini mengandung makna dimulainya pembinaan umat untuk membangun struktur sosial Islam. Rasulullah sebagai uswatun hasanah memberikan teladan dalam membina umatnya dengan: pertama, iman yang teguh, taqwa yang tinggi, akhlaq yang mulia disertai ketahanan dan keuletan merupakan salah satu kunci suksenya Nabi dalam berdakwah dan membangun masyarakat yang harmonis; kedua, dalam membangun masyarakat baru langkah yang diambil oleh Rasulullah adalah menciptakan perdamaian dan menggalang persaudaraan. Dua kabilah di Madinah yang saling bermusuhan, yaitu Aus dan Khajraj didamaikan dan diikat dengan tali persaudaraan. Selain dari itu Nabi pun mempersaudarakan kaum Anshar, penduduk asli Madinah dan kaum Muhajirin, kaum muslimin yang hijrah ke Madinah.Ketiga, dalam mewujudkan masyarakat baru di Madinah, Nabi pun membina kerukunan hidup antar umat beragama dengan menggalang kerja sama serta persatuan yang dituangkan dalam kesepakatan tertulis, yaitu piagam Madinah. Dengan demikian semua warga memiliki hak perlindungan hukum yang sama dan mempunyai kewajiban  yang sama pula dalam mempertahankan keamanan dan kesetabilan masyarakat baru tersebut; Ke-empat, dalam membina masyarakat yang damai, Nabi mengetengahkan pendekatan manusiawi dengan menonjolkan sifat-sifat pemaaf. Sikap penuh pemaaf Nabi tersebut ditampilakan ketika peristiwa penaklukan kota Makkah. Sikap sikap yang jauh dari rasa benci, dendam, dengki tersebut sangat menyentuh kalbu para musuh yang bersengkongkol membunuh Nabi, sehingga mereka mengubah pendirian yang ikhlas untuk menerima dakwah Nabi memeluk agama Islam. Kelima, pada kesempatan haji wda, Nabi menyampaikan deklarasi universal tentang persamaan derajat manusia. Suatu deklarasi yang monumental, sebagai acuan setiap sikap hidup, pelaksanaan ajaran agama, penegakan hukum dan keadilan dengan menempatkan manusia sebagai mahluk yang berharkat,  dan bermartabat.***

 

Add comment

Security code
Refresh

< Sebelumnya   Berikutnya >

Cari berita

Berlangganan

Masukan alamat email untuk berlangganan:

Delivered by FeedBurner


Support Administrator

lutfi danny nurul

Donasi

klik di sini untuk menjadi donatur www.ranahdamai.org

Web Link

Ponpes Darussalam
kampusciamis
Special Gadget
milis alumni darussalam
milis MTs

Mau ikutan nglink di sini? silahkan kirim permintaan kamu melalui e-mail ke Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya